Tugas 1
Ilmu Sosial Dasar Dalam Kehidupan
Ilmu sosial dasar adalah pengetahuan yang menelaah
masalah-masalah sosial, khususnya yang diwujudkan oleh masyarakat Indonesia
dengan menggunakan pengertian-pengertian (fakta, konsep, teori) yang berasal
dari berbagai bidang pengetahuan keahlian dalam lapangan ilmu-ilmu social
seperti : sejarah,ekonomi, geografi, sosial, sosiologi, antropologi, psikologi
sosial.
Tujuan
:
Sebagai
salah satu dari mata kuliah dasar umum. Ilmu Sosial Dasar mempunyai tujuan
pembinaan mahasiswa agar :
a. Memahami dan menyadari adanya
kenyataan-kenyataan sosial dan maslah-masalah sosial yang ada di dalam masyarakat.
b. Peka terhadap masalah-masalah sosial
dan tanggap untuk ikut serta dalam usaha-usaha menanggulanginya.
c. Menyadari setiap masalh sosial yang
timbul dala masyarakat selalu bersifat kompleks dan hanya mendekatinya
mempelajarinya secara kritis dan interdisipliner.
d. Memahami jalan pikiran para ahli
dalam bidang ilmu pengetahuan lain dan dapat berkomunikasi dengan mereka dalam
rangka penanggulangan masalah sosial yang timbul dalam masyarakat.
Indonesia
adalah negara yang mempunyai penduduk sangat padat terutama di kota-kota besar.
Dengan jumplah penduduk yang sangat padat, membuat Indonesia banyak mengalami
masalah sosial. Masalah sosial itu sendiri dirumuskan atau dinyatakan oleh
suatu entitas yang berpengaruh yang mengancam nilai-nilai suatu masyarakat
sehingga berdampak kepada sebagian besar anggota masyarakat dan kondisi itu
diharapkan dapat diatasi melalui kegiatan bersama.
Misalnya saja
Kemiskinan, Pendidikan dan kejahatan. Tak hanya itu, Masalah lain yang paling
banyak di indonesia juga ada seperti Banyaknya pengangguran dan kurangnya keadilan untuk masyarakat terutama masyarakat
kecil. bukan menjadi rahasia lagi, Indonesia memiliki catatan hukum yang jelek.
Kadang yang
salah terlihat benar dan yang benar bisa terlihat salah. Kesenjangan kadang
juga timbul antara si kaya dan si miskin. Dan berikut ini sedikit Contoh
Masalah sosial yang ada di masyarakat Indonesia :
1. Kemiskinan
Kemiskinan
adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar
seperti makanan , pakaian , tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan.
Kemiskinan di indonesia terjadi bukan hanya di daerah pelosok saja, tetapi juga
terjadi di daerah perkotaan yang konon menjanjikan banyak kemewahan. Hal ini terjadi karena banyak
faktor, dan diantaranya adalah masalah pendidikan yang belum bisa semua
masyarakat indonesia rasakan. Akan tetapi menurut survai, Kemiskinan di
indonesia semakin berkurang .
2. Pendidikan
Indonesia
termasuk negara yang tingkat pendidikannya cukup rendah di dunia. Banyak sekali
anak-anak yang harusnya sekolah, mereka sibuk membantu orang tuanya untuk
bekerja mencari nafkah. Pastinya mereka (anak-anak indonesia) ingin merasakan
sekolah seperti anak-anak yang lain. akan tetapi keadaan perekonomian orang tua
yang kurang mampu membuat mereka mengubur keinginan tersebut. Meskipun
pemerintah telah mengucurkan dana BOS, tetapi pada kenyataannya masih banyak
anak-anak dijalanan ketika jam sekolah.
3. Kejahatan
Indonesia
memiliki tingkat kriminalitas yang tinggi, apalagi di daerah kota besar. Jenis
kejahatan yang dilakukan juga beragam, dari segi motif dan caranya. Tapi paling banyak yang terjadi adalah kejahatan yang timbul karena
faktor ekonomi. Ini terjadi bukan hanya pada orang yang kurang
terpelajar, akan tetapi orang yang terpelajarpun juga kadang masuk dalam daftar
orang yang melakukan tindakan kriminal. misalnya saja pemalakan, tawuran dsb.
Ini bisa dilihat di acara televisi yang setiap hari pasti ada tayangan kriminal
yang terjadi entah itu di ibu kota atau di daerah.
4. Pengangguran
Pengangguran
adalah masalah serius yang dihadapi indonesia sejak beberapa tahun yang lalu.
Jumplah penduduk yang semakin banyak tak diimbangi dengan jumplah lapangan
kerja yang banyak pula, sehingga terjadi banyak pengangguran.
Pengangguran juga bertambah seiring kebiasaan masyarakat yang datang dari
daerah memadati ibu kota. Kadang mereka datang dengan modal nekat tanpa
ketrampilan khusus sehingga di kota mereka tak punya kerjaan. Sebenarnya
lapangan pekerjaan bisa kita ciptakan sendiri tanpa harus pergi ke ibukota.
5. Keadilan
Keadilan adalah
kondisi kebenaran ideal secara moral mengenai sesuatu hal, baik menyangkut
benda atau orang. Menurut sebagian besar teori, keadilan memiliki tingkat
kepentingan yang besar. John Rawls, filsuf Amerika Serikat yang dianggap
salah satu filsuf politik terkemuka abad ke-20, menyatakan bahwa "Keadilan
adalah kelebihan (virtue) pertama dari institusi sosial, sebagaimana halnya
kebenaran pada sistem pemikiran" [1]. Tapi, menurut kebanyakan teori juga,
keadilan belum lagi tercapai: "Kita tidak hidup di dunia yang adil"
[2]. Kebanyakan orang percaya bahwa ketidakadilan harus dilawan dan dihukum,
dan banyak gerakan sosial dan politis di seluruh dunia yang berjuang menegakkan
keadilan.
Contoh kasus :
Polisi Tangkap Pemerkosa Anak Dibawah Umur
Pemerkosan
Anak di bawah umur kembali terjadi. Kali itu musibah itu menimpa Kenanga, 12
tahun, bukan nama sebenarnya di Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat. Pemerkosaan
yang sudah empat kali terjadi itu, baru dilaporkan korbannya setelah dia tidak
diberi uang untuk membeli mie instan oleh tersangka, Jumat (12/5) malam.
Junawan,
21 tahun, tersangka kasus pemerkosaan ini mengaku telah memperkosa Kenanga
sejak April lalu. Dia merasa tergoda ketika menonton TV bersama di rumahnya.
Kebetulan, Kenanga tinggal satu atap dengan Junawan. Orangtua Kenanga mengontrak rumah di lantai satu, milik orang tua Junawan. Dan, Keluarga Junawan tinggal di lantai atas. Keluarga itu juga menggunakan akses keluar masuk melewati rumah di lantai satu itu. Menurut Junawan, pemerkosaan biasa dilakukan sekitar pukul 09.00 hingga 12.00 siang. Karena pada saat itu rumah dalam keadaan sepi. Orang tua Kenanga sedang bekerja. Begitu pula dengan orang tua Junawan yang berdagang daging pergi ke pasar, sedangkan dua adiknya sekolah.
Kebetulan, Kenanga tinggal satu atap dengan Junawan. Orangtua Kenanga mengontrak rumah di lantai satu, milik orang tua Junawan. Dan, Keluarga Junawan tinggal di lantai atas. Keluarga itu juga menggunakan akses keluar masuk melewati rumah di lantai satu itu. Menurut Junawan, pemerkosaan biasa dilakukan sekitar pukul 09.00 hingga 12.00 siang. Karena pada saat itu rumah dalam keadaan sepi. Orang tua Kenanga sedang bekerja. Begitu pula dengan orang tua Junawan yang berdagang daging pergi ke pasar, sedangkan dua adiknya sekolah.
“Pada awalnya dia (korban) memberontak, tetapi selanjutnya tidak. Saya selalu mengancamnya bila berani mengadu,” ujar Junawan.
Seusai
melakukan pemerkosaan, Junawan selalu memberikan uang kepada Kenanga Rp 10
ribu. Jumat kemarin, kata Junawan, Kenanga minta uang kepadanya untuk membeli
mie instan. Karena tak diberi, Kenanga mengadukan perbuatan Junawan kepada
orang tuanya.
Orang tua Kenanga melaporkan kasus itu ke polisi. Petugas Polsek Cengkareng menangkap Junawan dini hari ini di rumahnya. Kini pemuda pengangguran itu mendekam di sel tahanan Polsek Cengkareng.
Orang tua Kenanga melaporkan kasus itu ke polisi. Petugas Polsek Cengkareng menangkap Junawan dini hari ini di rumahnya. Kini pemuda pengangguran itu mendekam di sel tahanan Polsek Cengkareng.
Analisis
Kasus :
Pelecehan
seksual adalah perilaku pendekatan-pendekatan yang terkait dengan seks yang
tidak diinginkan, termasuk permintaan untuk melakukan seks, dan perilaku
lainnya yang secara verbal ataupun fisik merujuk pada seks. Sayangnya hanya
sedikit yang menyadari bahwa pelecehan seksual anak juga bisa dilakukan oleh
anak yang usianya tidak berpaut jauh dari mereka bahkan seumuran dengan anak.
Pelecehan seksual dapat terjadi dimana saja baik tempat umum seperti bis,
pasar, sekolah, kantor, maupun di tempat pribadi seperti rumah. Peran orang tua
sangat diperlukan untuk menjaga dan memperhatikan anak-anaknya, karena selama
ini kami melihat orang tua sering lalai dalam menjaga anak-anaknya. orang tua
yang lalai menjadi pemicu terjadinya pemerkosaan anak di bawah umur yang lebih
sering dilakukan oleh keluarganya sendiri. Walaupun secara umum wanita sering
mendapat sorotan sebagai korban pelecehan seksual, namun pelecehan seksual
dapat menimpa siapa saja. Korban pelecehan seksual bisa jadi adalah laki-laki
ataupun perempuan. Korban bisa jadi adalah lawan jenis dari perilaku pelecehan
ataupun berjenis kelamin yang sama dan "Sekitar 70 persen pelaku pelecehan
seksual terhadap anak dibawah umur dilakukan oleh orang-orang terdekat atau
orang yang dikenal," Agar terhindar dari pelecehan seksual, hendaknya para
wanita wanita jangan bepergian tanpa disertai pria muhrimnya agar aman, jika
bepergian harus memakai pakaian islami dan sopan, jangan memakai make up,
tutupilah kecantikan anda agar tidak menjadi sasaran pemerkosaan dan jangan
memakai parfum wewangian
Ketika
seseorang mengalami kekerasan atau pelecehan secara seksual secara fisik maupun
psikologis, maka kejadian tersebut dapat menimbulkan suatu trauma yang sangat
mendalam dalam diri seseorang tersebut terutama pada anak -anak dan remaja.
Kejadian traumatis tersebut dapat mengakibatkan gangguan secara mental
Penyelesaiannya
:
1.
Sosialisasi sex edukasi yang baik dan benar sesuai dengan umurnya. Tujuanya
agar anak-anak yang masih didalam pengawasan orang tuanya mengerti dengan baik
bahwa ada organ-organ sensitive mereka yang harus dijaga dengan baik.
2.
Bimbingan dan kasih sayang orang tua. Tekanan ekonomi atau ketidak dekatan
kasih sayang dari keluarga bias menjadi factor pemicu si anak mencari
pelampiasan lain.
3.
Bimbingan atau konseling dari pihak professional. Dimaksudkan apabila sudah
terjadi pemerkosa akan mendapatkan hukuman agar menimbulkan efek jera selain
itu juga konseling dari pihak professional seperti psikolog untuk membantu
proses pembenahan mental.
Tugas 2
Penyebab perilaku
menyimpang
Perilaku menyimpang
yang juga biasa dikenal dengan nama penyimpangan sosial adalah perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan atau kepatutan, baik dalam sudut pandang kemanusiaan (agama) secara individu maupun pembenarannya sebagai bagian daripada
makhluk sosial.
Definisi
Dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia perilaku menyimpang diartikan sebagai tingkah laku,
perbuatan, atau tanggapan seseorang terhadap lingkungan
yang bertentangan dengan norma-norma
dan hukum
yang ada di dalam masyarakat.
Dalam kehidupan masyarakat, semua tindakanmanusia dibatasi oleh aturan (norma) untuk berbuat dan berperilaku sesuai dengan sesuatu yang dianggap baik oleh masyarakat. Namun demikian di tengah kehidupan masyarakat kadang-kadang masih kita jumpai tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan aturan (norma) yang berlaku pada masyarakat, misalnya seorang siswa menyontek pada saat ulangan, berbohong, mencuri, dan mengganggu siswa lain.
Berikut ini beberapa definisi dari perilaku menyimpang yang dijelaskan oleh beberapa ahli sosiologi :
Dalam kehidupan masyarakat, semua tindakanmanusia dibatasi oleh aturan (norma) untuk berbuat dan berperilaku sesuai dengan sesuatu yang dianggap baik oleh masyarakat. Namun demikian di tengah kehidupan masyarakat kadang-kadang masih kita jumpai tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan aturan (norma) yang berlaku pada masyarakat, misalnya seorang siswa menyontek pada saat ulangan, berbohong, mencuri, dan mengganggu siswa lain.
Berikut ini beberapa definisi dari perilaku menyimpang yang dijelaskan oleh beberapa ahli sosiologi :
- Menurut James Worker Van der Zaden. Penyimpangan sosial adalah perilaku yang oleh sejumlah besar orang dianggap sebagai hal yang tercela dan di luar batas toleransi.
- Menurut Robert Muhamad Zaenal Lawang. Penyimpangan sosial adalah semua tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dalam masyarakat dan menimbulkan usaha dari yang berwenang dalam sistem itu untuk memperbaiki perilaku menyimpang tersebut.
- Menurut Paul Band Horton. Penyimpangan sosial adalah setiap perilaku yang dinyatakan sebagai pelanggaran terhadap norma-norma kelompok atau masyarakat.
Penyimpangan terhadap norma-norma atau nilai-nilai masyarakat disebut deviasi (deviation), sedangkan pelaku atau individu
yang melakukan penyimpangan disebut devian (deviant).Kebalikan dari perilaku menyimpang adalah perilaku
yang tidak menyimpang yang sering disebut dengan konformitas.Konformitas adalah bentuk interaksi sosial yang di dalamnya seseorang
berperilaku sesuai dengan harapan kelompok.
A.
Ciri-ciri Perliku Menyimpang
- Penyimpangan harus dapat didefinisikan. Perilaku dikatakan menyimpang atau tidak harus bisa dinilai berdasarkan kriteria tertentu dan diketahui penyebabnya.
- Penyimpangan bisa diterima bisa juga ditolak. Perilaku menyimpang tidak selamanya negatif, ada kalanya penyimpangan bisa diterima masyarakat, misalnya wanita karier. Adapun pembunuhan dan perampokan merupakan penyimpangan sosial yang ditolak masyarakat.
- Penyimpangan relatif dan penyimpangan mutlak. Semua orang pernah melakukan perilaku menyimpang, akan tetapi pada batas-batas tertentu yang bersifat relatif untuk semua orang. Dikatakan relatif karena perbedaannya hanya pada frekuensi dan kadar penyimpangan. Jadi secara umum, penyimpangan yang dilakukan setiap orang cenderung relatif. Bahkan orang yang telah melakukan penyimpangan mutlak lambat laun harus berkompromi dengan lingkungannya.
4.
Penyimpangan terhadap budaya nyata ataukah budaya ideal. Budaya ideal
adalah segenap peraturan hukum
yang berlaku dalam suatu kelompokmasyarakat.
Akan tetapi pada kenyataannya tidak ada seorang pun yang patuh terhadap segenap peraturan resmi tersebut karena antara budaya nyata dengan
budaya ideal selalu terjadi kesenjangan. Artinya, peraturan yang telah menjadi pengetahuan
umum dalam kenyataan kehidupan sehari-hari cenderung banyak dilanggar.
- Terdapat norma-norma penghindaran dalam penyimpangan. Norma penghindaran adalah pola perbuatan yang dilakukan orang untuk memenuhi keinginan mereka, tanpa harus menentang nilai-nilai tata kelakukan secara terbuka. Jadi norma-norma penghindaran merupakan bentuk penyimpangan perilaku yang bersifat setengah melembaga.
- Penyimpangan sosial bersifat adaptif (menyesuaikan). Penyimpangan sosial tidak selamanya menjadi ancaman karena kadang-kadang dapat dianggap sebagai alat pemikiran stabilitas sosial.
B.
Faktor-faktor Penyebab Perilaku
Menyimpang dalam
keluarga dan masyarakat.a. Faktor dari dalam (intrinsik)
1) Intelegensi
Setiap orang mempunyai intelegensi yang berbeda-beda.Perbedaan intelegensi ini berpengaruh dalam daya serap terhadap norma-norma dan nilai-nilai sosial.Orang yang mempunyai intelegensi tinggi umumnya tidak kesulitan dalam bergaul, belajar, dan berinteraksi di masyarakat. Sebaliknya orang yang intelegensinya di bawah normal akan mengalami berbagai kesulitan dalam belajar di sekolah maupun menyesuaikan diri di masyarakat. Akibatnya terjadi penyimpanganpenyimpangan, seperti malas belajar, emosional, bersikap kasar, tidak bisa berpikir logis. Contohnya, ada kecenderungan dalam kehidupan sehari, anak-anak yang memiliki nilai jelek akan merasa dirinya bodoh. Ia akan merasa minder dan putus asa.
Dalam keputusasaannya tersebut, tidak jarang anak yang mengambil penyelesaian yang menyimpang.Ia akan melakukan segala cara agar nilainya baik, seperti menyontek.
2)
Jenis kelamin
Perilaku
menyimpang dapat juga diakibatkan karena perbedaan jenis kelamin.Anak laki-laki
biasanya cenderung sok berkuasa dan menganggap remeh pada anak perempuan.
Contonya dalam keluarga yang sebagian besar anaknya perempuan, jika terdapat satu anak laki-laki biasanya minta diistimewakan, ingin dimanja.
Contonya dalam keluarga yang sebagian besar anaknya perempuan, jika terdapat satu anak laki-laki biasanya minta diistimewakan, ingin dimanja.
3)
Umur
Umur memengaruhi pembentukan sikap dan pola tingkah laku
seseorang. Makin bertambahnya umur diharapkan seseorang bertambah pula
kedewasaannya, makin mantap pengendalian emosinya, dan makin tepat segala
tindakannya.
Namun demikian, kadang kita jumpai penyimpanganpenyimpangan yang dilakukan oleh orang yang sudah berusia lanjut, sikapnya seperti anak kecil, manja, minta diistimewakan oleh anak-anaknya.
Namun demikian, kadang kita jumpai penyimpanganpenyimpangan yang dilakukan oleh orang yang sudah berusia lanjut, sikapnya seperti anak kecil, manja, minta diistimewakan oleh anak-anaknya.
4)
Kedudukan dalam keluarga
Dalam keluarga yang terdiri atas beberapa anak, sering kali
anak tertua merasa dirinya paling berkuasa dibandingkan dengan anak kedua atau
ketiga.Anak bungsu mempunyai sifat ingin dimanjakan oleh kakak-kakaknya maupun
orang tuanya.
Jadi, susunan atau urutan kelahiran kadang akan menimbulkan pola tingkah laku dan peranan dari fungsinya dalam keluarga.
Jadi, susunan atau urutan kelahiran kadang akan menimbulkan pola tingkah laku dan peranan dari fungsinya dalam keluarga.
b.
Faktor dari luar (ekstrinsik)
1)
Peran keluarga
Keluarga sebagai unit terkecil dalam kehidupan sosial sangat
besar perananya dalam membentuk pertahanan seseorang terhadap serangan penyakit
sosial sejak dini.Orang tua yang sibuk dengan kegiatannya sendiri tanpa
mempedulikan bagaimana perkembangan anak-anaknya merupakan awal dari rapuhnya
pertahanan anak terhadap serangan penyakit sosial.
Sering kali orang tua hanya cenderung memikirkan kebutuhan lahiriah anaknya dengan bekerja keras tanpa mempedulikan bagaimana anak-anaknya tumbuh dan berkembang dengan alasan sibuk mencari uang untuk memenuhi kebutuhan anaknya.Alasan tersebut sangat rasional dan tidak salah, namun kurang tepat, karena kebutuhan bukan hanya materi saja tetapi juga nonmateri.Kebutuhan nonmateri yang diperlukan anak dari orang tua seperti perhatian secara langsung, kasih sayang, dan menjadi teman sekaligus sandaran anak untuk menumpahkan perasaannya.
Kesulitan para orang tua untuk mewujudkan keseimbangan dalam pemenuhan kebutuhan lahir dan batin inilah yang menjadi penyebab awal munculnya kenakalan remaja yang dilakukan anak dari dalam keluarga yang akhirnya tumbuh dan berkembang hingga meresahkan masyarakat.Misalnya, seorang anak yang tumbuh dari keluarga yang tidak harmonis.
Kasih sayang dan perhatian anak tersebut cenderung diabaikan oleh orang tuanya. Oleh sebab itulah, ia akan mencari bentuk-bentuk pelampiasan dan pelarian yang kadang mengarah pada hal-hal yang menyimpang. Seperti masuk dalam anggota genk, mengonsumsi minuman keras dan narkoba, dan lain-lain. Ia merasa jika masuk menjadi anggota genk, ia akan diakui, dilindungi oleh kelompoknya. Di mana hal yang demikian tersebut tidak ia dapatkan dari keluarganya.
Sering kali orang tua hanya cenderung memikirkan kebutuhan lahiriah anaknya dengan bekerja keras tanpa mempedulikan bagaimana anak-anaknya tumbuh dan berkembang dengan alasan sibuk mencari uang untuk memenuhi kebutuhan anaknya.Alasan tersebut sangat rasional dan tidak salah, namun kurang tepat, karena kebutuhan bukan hanya materi saja tetapi juga nonmateri.Kebutuhan nonmateri yang diperlukan anak dari orang tua seperti perhatian secara langsung, kasih sayang, dan menjadi teman sekaligus sandaran anak untuk menumpahkan perasaannya.
Kesulitan para orang tua untuk mewujudkan keseimbangan dalam pemenuhan kebutuhan lahir dan batin inilah yang menjadi penyebab awal munculnya kenakalan remaja yang dilakukan anak dari dalam keluarga yang akhirnya tumbuh dan berkembang hingga meresahkan masyarakat.Misalnya, seorang anak yang tumbuh dari keluarga yang tidak harmonis.
Kasih sayang dan perhatian anak tersebut cenderung diabaikan oleh orang tuanya. Oleh sebab itulah, ia akan mencari bentuk-bentuk pelampiasan dan pelarian yang kadang mengarah pada hal-hal yang menyimpang. Seperti masuk dalam anggota genk, mengonsumsi minuman keras dan narkoba, dan lain-lain. Ia merasa jika masuk menjadi anggota genk, ia akan diakui, dilindungi oleh kelompoknya. Di mana hal yang demikian tersebut tidak ia dapatkan dari keluarganya.
2)
Peran masyarakat
Pertumbuhan dan perkembangan kehidupan anak dari lingkungan
keluarga akhirnya berkembang ke dalam lingkugan masyarakat yang lebih
luas.Ketidakmampuan keluarga memenuhi kebutuhan rohaniah anak mengakibatkan
anak mencari kebutuhan tersebut ke luar rumah. Ini merupakan awal dari sebuah
petaka masa depan seseorang, jika di luar rumah anak menemukan sesuatu yang
menyimpang dari nilai dan norma sosial.
Pola kehidupan masyarakat tertentu kadang tanpa disadari oleh para warganya ternyata menyimpang dari nilai dan norma sosial yang berlaku di masyarakat umum. Itulah yang disebut sebagai subkebudayaan menyimpang. Misalnya masyarakat yang sebagian besar warganya hidup mengandalkan dari usaha prostitusi, maka anak-anak di dalamnya akan menganggap prostitusi sebagai bagian dari profesi yang wajar. Demikian pula anak yang tumbuh dan berkembang di lingkungan masyarakat penjudi atau peminum minuman keras, maka akan membentuk sikap dan pola perilaku menyimpang.
Pola kehidupan masyarakat tertentu kadang tanpa disadari oleh para warganya ternyata menyimpang dari nilai dan norma sosial yang berlaku di masyarakat umum. Itulah yang disebut sebagai subkebudayaan menyimpang. Misalnya masyarakat yang sebagian besar warganya hidup mengandalkan dari usaha prostitusi, maka anak-anak di dalamnya akan menganggap prostitusi sebagai bagian dari profesi yang wajar. Demikian pula anak yang tumbuh dan berkembang di lingkungan masyarakat penjudi atau peminum minuman keras, maka akan membentuk sikap dan pola perilaku menyimpang.
3)
Pergaulan
Pola tingkah laku seorang anak tidak bisa terlepas dari pola
tingkah laku anak-anak lain di sekitarnya. Anak-anak lain yang menjadi teman
sepergaulannya sering kali memengaruhi kepribadian seorang anak. Dari teman
bergaul itu, anak akan menerima norma-norma atau nilai-nilai sosial yang ada
dalam masyarakat. Apabila teman bergaulnya baik, dia akan menerima
konsep-konsep norma yang bersifat positif. Namun apabila teman bergaulnya
kurang baik, sering kali akan mengikuti konsep-konsep yang bersifat negatif.
Akibatnya terjadi pola tingkah laku yang menyimpang pada diri anak tersebut.
Misalnya di suatu kelas ada anak yang mempunyai kebiasaan memeras temannya
sendiri, kemudian ada anak lain yang menirunya dengan berbuat hal yang sama.
Oleh karena itu, menjaga pergaulan dan memilih lingkungan pergaulan yang baik
itu sangat penting.
4)
Media massa
Berbagai tayangan di televisi tentang tindak kekerasan,
film-film yang berbau pornografi, sinetron yang berisi kehidupan bebas dapat
memengaruhi perkembangan perilaku individu.
Anak-anak yang belum mempunyai konsep yang benar tentang norma-norma dan nilai-nilai sosial dalam masyarakat, sering kali menerima mentah-mentah semua tayangan itu.Penerimaan tayangan-tayangan negatif yang ditiru mengakibatkan perilaku menyimpang.
Anak-anak yang belum mempunyai konsep yang benar tentang norma-norma dan nilai-nilai sosial dalam masyarakat, sering kali menerima mentah-mentah semua tayangan itu.Penerimaan tayangan-tayangan negatif yang ditiru mengakibatkan perilaku menyimpang.
Tugas 3
RUANG LINGKUP ILMU SOSIAL DASAR
Bahan
Ilmu Sosial Dasar dibagi atas 3 golongan , yaitu :
1. Kenyataan-kenyataan
sosial yang ada dalam masyarakat , yang secara bersama-sama merupakan masalah
sosial tertentu.
Kenyataan-kenyataan sosial tersebut sering ditanggapi secara berbeda oleh para ahli ilmu-ilmu sosial , karena adanya perbedaan latar belakang disiplin ilmu atau sudut pandangnya. Dalam Ilmu Sosial Dasar kita menggunakan pendekatan interdsiplin/multidisiplin .
Kenyataan-kenyataan sosial tersebut sering ditanggapi secara berbeda oleh para ahli ilmu-ilmu sosial , karena adanya perbedaan latar belakang disiplin ilmu atau sudut pandangnya. Dalam Ilmu Sosial Dasar kita menggunakan pendekatan interdsiplin/multidisiplin .
2. Konsep-konsep sosial
atau pengertian-pengertian tentang kenyataan-kenyataan sosial dibatasi pada
konsep dasar atau elementer saja yang sangat di perlukan untuk mempelajari
masalah-masalah sosial yang di bahas dalam Ilmu Pengetahuan Sosial .
Sebagai contoh dari konsep dasar semacam itu misalnya konsep “keaneragaman” dan konsep “kesatuan sosial’ . Bertolak dari kedua konsep tersebut di atas , maka dapat kita pahami dan sadari bahwa di dalam masyarakat
selalu terdapat :
Sebagai contoh dari konsep dasar semacam itu misalnya konsep “keaneragaman” dan konsep “kesatuan sosial’ . Bertolak dari kedua konsep tersebut di atas , maka dapat kita pahami dan sadari bahwa di dalam masyarakat
selalu terdapat :
a) Persamaan dan perbedaan
pola pemikirandan pola tingkah laku baik secara individual atau kelompok/golongan
.
b) Persamaan dan perbedaan
kepentingan .
Persamaan dan perbedaan itulah yang
menyebabkan sering timbulnya pertentangan/konflik , kerja-sama,kesetiakawanan
antar individu dan golongan .
3. Masalah-masalah
sosial yang timbul dalam masyarakat , biasanya terlibat dalam berbagai
kenyataan-kenyataan sosial yang antara satu dengan lainnya saling berkaitan .
Berdasarkan bahan kajian seperti yang disebut di atas , dapat di jabarkan lebih lanjut ke dalam pokok bahasan dan sub pokok bahasan , untuk dapat di operasionalkan .
Konsorsium Antar Bidang telah menetapkan bahwa perkuliahan Ilmu Sosial Dasar terdiri atas 8 pokok bahasan . Dari ke delapan Pokok Bahasan tersebut maka ruang lingkup Ilmu Sosial dasar di harapkan mempelajari dan memahami adanya :
Berdasarkan bahan kajian seperti yang disebut di atas , dapat di jabarkan lebih lanjut ke dalam pokok bahasan dan sub pokok bahasan , untuk dapat di operasionalkan .
Konsorsium Antar Bidang telah menetapkan bahwa perkuliahan Ilmu Sosial Dasar terdiri atas 8 pokok bahasan . Dari ke delapan Pokok Bahasan tersebut maka ruang lingkup Ilmu Sosial dasar di harapkan mempelajari dan memahami adanya :
a) Berbagai masalah
kependudukan dalam hubungannya dengan perkembangan masyarakat dan kebudayaan.
b) Masalah individu , keluarga
dan masyarakat.
c) Masalah pemuda dan
sosialisasi.
d) Masalah hubungan antara
warga negara dan negara.
e) Masalah pelapisan sosial
dan kesamaan derajat.
f) Masalah masyarakat
perkotaan dan masyarakat pedesaan.
g) Masalah
pertentangan-pertentangan sosial dan integrasi.
h) Pemanfaatan ilmu
pengetahuan dan teknologi bagi kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat.
Tugas 4
Ilmu Sosial Dasar "Peran Pemuda dalam
Pembangunan Indonesia"
Baik buruknya suatu Negara dilihat dari kualitas pemudanya,
karena generasi muda adalah penerus dan pewaris bangsa dan Negara.Generasi muda
harus mempunyai karakter yang kuat untuk membangun bangsa dan negaranya Pemuda
juga perlu memperhatikan bahwa mereka mempunyai fungsi sebagai Agent of change,
moral force and sosial kontrol sehingga fungsi tersebut dapat berguna bagi
masyarakat.
Peran aktif pemuda sebagai kekuatan moral diwujudkan dengan
menumbuhkembangkan aspek etik dan moralitas dalam bertindak pada setiap dimensi
kehidupan kepemudaan, memperkuat iman dan takwa serta ketahanan
mental-spiritual, dan meningkatkan kesadaran hukum. Sebagai kontrol sosial
diwujudkan dengan memperkuat wawasan kebangsaan, membangkitkan kesadaran atas
tanggungjawab, hak, dan kewajiban sebagai warga negara, membangkitkan sikap
kritis terhadap lingkungan dan penegakan hukum, meningkatkan partisipasi dalam
perumusan kebijakan publik, menjamin transparansi dan akuntabilitas publik, dan
memberikan kemudahan akses informasi.
Sebagai agen perubahan diwujudkan dengan mengembangkan
pendidikan politik dan demokratisasi, sumberdaya ekonomi, kepedulian terhadap
masyarakat, ilmu pengetahuan dan teknologi, olahraga, seni, dan budaya,
kepedulian terhadap lingkungan hidup, pendidikan kewirausahaan, serta
kepemimpinan dan kepeloporan pemuda.
Peran penting pemuda telah tercatat dalam sejarah perjuangan
bangsa Indonesia yang dimulai dari pergerakan Budi Utomo tahun 1908, Sumpah
Pemuda tahun 1928, proklamasi kemerdekaan tahun 1945, pergerakan pemuda,
pelajar, dan mahasiswa tahun 1966, sampai dengan pergerakan mahasiswa pada
tahun 1998 yang meruntuhkan kekuasaan Orde Baru selama 32 tahun sekaligus
membawa bangsa Indonesia memasuki masa reformasi. Fakta historis ini menjadi
salah satu bukti bahwa pemuda selama ini mampu berperan aktif sebagai pionir
dalam proses perjuangan, pembaruan, dan pembangunan bangsa.
Dalam proses pembangunan bangsa, pemuda merupakan kekuatan
moral, kontrol sosial, dan agen perubahan sebagai perwujudan dari fungsi,
peran, karakteristik, dan kedudukannya yang strategis dalam pembangunan
nasional. Untuk itu, tanggung jawab dan peran strategis pemuda di segala
dimensi pembangunan perlu ditingkatkan dalam kerangka hukum nasional sesuai
dengan nilai yang terkandung di dalam Pancasila dan amanat Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dengan berasaskan Ketuhanan Yang Maha Esa,
kemanusiaan, kebangsaan, kebhinekaan, demokratis, keadilan, partisipatif,
kebersamaan, kesetaraan, dan kemandirian.
Dalam sejarah pergerakan dan perjuangan bangsa Indonesia,
pemuda selalu mempunyai peran yang sangat strategis di setiap peristiwa penting
yang terjadi.Ketika memperebutkan kemerdekaan dari penjajah belanda dan jepang
kala itu, ketika menjatuhkan rezim Soekarno (orde lama), hingga kembali
menjatuhkan rezim Soeharto (orde baru), pemuda menjadi tulang punggung bagi
setiap pergerakan perubahan ketika masa tersebut tidak sesuai dengan keinginan
rakyat. Pemuda akan selalu menjadi People make history (orang yang membuat
sejarah) di setiap waktunya. Pemuda memang mempunyai posisi strategis dan
istimewa. Secara kualitatif, pemuda lebih kreatif, inovatif, memiliki idealisme
yang murni dan energi besar dalam perubahan sosial dan secara kuantitatif,
sekitar 30-40 % pemuda dari total jumlah penduduk Indonesia dalam kisaran umur
15-35 tahun dan akan lebih besar lagi jika kisaran menjadi 15-45 tahun.
Pemuda akan lebih bersifat kreatif untuk melakukan
pergerakan ketika kondisi atau suasana di sekitarnya mengalami kerumitan,
terdapat banyak masalah yang di hadapi yang tidak kunjung terselesaikan. Di
satu sisi, ketika suasana di sekitarnya terlihat aman dan tentram tidak ada
masalah serius yang dihadapi, pemuda akan cenderung diam/pasif, tidak banyak
berbuat, lebih apatis dan mempertahankan kenyamanan yang dirasakan. Padahal
baik dalam kondisi banyak permasalahan ataupun kondisi tanpa masalah serius,
pemuda dituntut lebih banyak bergerak dalam membuat perubahan yang lebih baik,
lebih produktif dan lebih kreatif dalam memikirkan ide-ide perubahan untuk
bangsa yang lebih baik.
Pemuda Indonesia saat ini mengalami degradasi moral, terlena
dengan kesenangan dan lupa akan tanggung jawab sebagai seorang pemuda. Tataran
moral, sosial dan akademik, pemuda tidak lagi memberi contoh dan keteladanan
baik kepada masyarakat sebagai kaum terpelajar, lebih banyak yang berorientasi
pada hedonisme (berhura-hura), tidak banyak pemuda yang peka terhadap kondisi
sosial masyarakat saat ini, dalam urusan akademik pun banyak mahasiswa tidak
menyadari bahwa mereka adalah insan akademis yang dapat memberikan pengaruh
besar dalam perubahan menuju kemajuan bangsa.
Problematika Pemuda
Problematika Pemuda
Masalah pemuda yang terbentang di hadapan kita sekarang
sangatlah kompleks, mulai dari masalah pengangguran, krisis eksistensi, krisis
mental hingga masalah dekadensi moral.Budaya permisif dan pragmatisme yang kian
merebak membuat sebagian pemuda terjebak dalam kehidupan serba instant,
hedonis, dan terlepas dari idealisme sehingga cenderung menjadi manusia yang
anti sosial.
Adapun masalah lain yang turut menjadi pemicu terancamnya
posisi pemuda adalah lemahnya pengawasan orang tua, keluarga, serta orang
terdekat termasuk pula lemahnya pemahaman pemuda terhadap agama, melanggar
tatanan hukum yang berlaku, dan lain sebagainya mengakibatkan pemuda banyak
terjerumus dalam pusaran pergaulan yang mengantarkan pemuda pada titik
kehancuran. Fakta yang ada sekarang menjadi bukti hal tersebut, misalnya dari
beberapa hasil penelitian mengemukakan bahwa seks bebas, penyalahgunaan
narkoba, justru lebih banyak dilakukan oleh pemuda. Hal ini menjadi tugas
bersama berbagai elemen guna menyelamatkan pemuda, sekaligus menyelamatkan
bangsa dari krisis kepemudaan yang berprestasi
Seperangkat aturan saja tidaklah cukup untuk melindungi
pemuda dari berbagai kemungkinan terburuk, tanpa didukung oleh peran
pemerintah, masyarakat, swasta, dan lain sebagainya dalam implementasi
seperangkat regulasi. Untuk itu harus dicari solusi agar proses pengembangan
potensi pemuda bukan hanya terbentuk dalam rencana semata, melainkan direalisai
melalui mekanisme yang sudah diatur sedemikian rupa. Salah satunya adalah
organisai yang memang merupakan salah satu wadah untuk mengembangkan potensi
yang dimiliki pemuda, sebab organisasi merupakan sarana paling efektif untuk
menginisiasi dan melakukan perubahan tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar